Meizan Nataadiningrat

Berkreasi, Menghidupkan Memori di Ruang Publik

Ketika sebagian besar orang menganggap bangunan tua sebagai tempat angker, Meizan Nataadiningrat justru memiliki perspektif berbeda. Lewat perbincangan hangat bersama tim UNIQLO di 180 Coffee and Music, ikon urban culture kota Bandung tersebut memaparkan gagasannya dalam menghidupkan kembali ruang publik yang terbengkalai.

Juli 2011 silam Jalan Cikapundung Timur yang sehari-hari cenderung sepi mendadak disesaki ribuan orang. Warga dan pendatang Kota Bandung membanjiri festival kuliner bertajuk Keuken yang diinisiasi oleh Meizan bersama tim House The House. “Kota ini memiliki banyak public space yang bisa dibilang “mati” dan terabaikan. Dari situ kami ingin merangkul segala kalangan untuk merayakan kota ini dengan cara menyenangkan. Karena Bandung identik dengan makanan enak, lahir lah gagasan festival kuliner untuk menghidupkan ruang publik tersebut,”, ujarnya.

Bukan sekedar festival kuliner biasa, ada misi penting di balik konsep Keuken ini. “Bangunan-bangunan terbengkalai ini memiliki potensi besar untuk mewujudkan sebuah kota yang nyaman – hanya saja dibutuhkan aktivasi. Tanpa perlu membangun struktur baru, kita dapat melakukan beragam kegiatan dan program ramah lingkungan yang dapat memberi dampak optimal bagi komunitas”, ungkap pria yang sejak kecil bercita-cita sebagai desainer ini.

Ajang tahunan ini pun menjadi unik serta menarik berkat konsep tematik yang disesuaikan dengan pilihan lokasi dan tentu saja dieksekusi secara cermat. ”Kita selalu berusaha menghubungkan konsep dengan konteks. Misalnya waktu di Husein, temanya itu Taste In Transit – dengan tenant yang menawarkan ragam kuliner internasional. Kemudian saat di Lodaya, tajuknya The Athlete’s Feast – selain tempatnya memang sporting district kita juga fokus mengangkat jenis makanan kaya nutrisi, sehingga relevan dengan tema olahraga”.

Sebagai insan kreatif yang memiliki concern besar terhadap tata ruang di kota Bandung, tentu Meizan disibukkan dengan jadwal bertemu dengan banyak pihak, mulai dari rekan kerja, klien, hingga para pembuat kebijakan. Aktivitas tersebut tentu perlu ditunjang dengan pilihan pakaian yang dapat memberi kenyamanan dan tampilan prima, beruntung UNIQLO dapat menjawab kebutuhannya. “Koleksi-koleksi UNIQLO cocok dipake di Bandung karena casual dan simple, masuk ke berbagai suasana. Karena Bandung lebih banyak informality nya yah, bisa ketemu potential client di tempat nongkrong, atau di tempat yang agak resmi tapi juga ringan, nah UNIQLO punya koleksi yang menurut saya bisa menjawab”.

Banyaknya pelaku kreatif di Kota Bandung dan hadirnya UNIQLO yang memiliki jaringan internasional membuat Meizan berharap suatu saat UNIQLO bisa berkolaborasi dengan talenta lokal untuk menghasilkan karya yang inspirasional dan dikenal dunia. “UNIQLO yang punya jaringan penjualan internasional, Bandung tuh harusnya bisa dikemas oleh UNIQLO sejajar sama Paris, Barcelona, New York karena talenta-talenta di Bandung itu luar biasa. Gua sih berharap banget UNIQLO bisa kerja sama dengan local talent dari berbagai macam disiplin untuk menghasilkan karya-karya yang inspiring untuk dunia”.